Oleh: khanggareng | Februari 20, 2009

Masih Ada

Ehh… blog ini ternyata  masih ada, terusin ahhh….

beggar_womanTahun ini tahun orang miskin, tahun saat orang miskin dimuliakan dan  dicari-cari.  Kemalangan, nasib jelek, kesusahan, penderitaannya merupakan barang berharga bagi capres.  Lha kok jadi barang berharga?   Mau tahu kenapa?  Coba lihat iklan-iklan para Calon Presiden  Stasiun TV, semua para Capres itu ingin memberi kesan kepada masyarakat  bahwa mereka itu peduli dengan ( nasib ) orang miskin.

Salahkah mereka para capres itu memanfaatkan kemiskinan masyarakat untuk kepentingannya dalam mencari simpati (masyarakat lainnya)? Jawabnya tentu tidak salah.  Meraka maju sebagai Capres dengan niat ingin memperbaiki nasib masyarakat dengan program-programnya         ( katanya ) -kalau terpilih tentunya.

Tapi sepertinya, tidak ada  korelasi positif antara presiden terpilih dengan program-program perbaikan yang dijanjikan dengan penurunan jumlah masyarakat miskin. Dari pengalaman yang ada, siapa (Presien ) yang terpilih ya terpilihlah… dan masyarakat yang miskin ya tetaplah miskin.

Saya teringat dengan seorang ibu di kampung, Ibu Saminem namanya.  Ibu Saminem ini miskin, tapi pandai memasak dan karena kepandaiannya ini dia sangat dibutuhkan saat musim ( bulan ) pesta  tiba, saat banyak orang pesta kawinan atau Sunatan anaknya. Dia akan berada di rumah Shokhibul Bait untuk beberapa hari membantu memasak untuk acara pesta. Saat-saat itu keberadaaanya sangat dibutuhkan. Jika pagi hari dia belum datang, si tuan rumah akan bingung dan segera mencarinya. Dia menjadi tumpuhan keberhasilan acara pesta.

Dan, upah apa yang diterima  atas jerih payahnya tadi?  Beberapa kilo beras, mie mentah, dan uang tak seberapa serta ucapan terima kasih ( kalau sempat).

Tapi bagaimana saat dia tidak sedang dibutuhkan?  Ya menjadi orang miskin yang ( seakan ) tidak dibutuhkan.

Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.

Oleh: khanggareng | Agustus 7, 2007

Lumayan…???

Kemarin aku lihat anak-anak berseragam TNI, masih muda-muda , sedang jalan-jalan. Eh.. aku kok ingat pengalamanku waktu tinggal di kampungku dulu. Ya.. sudah lama… lama sekali, lha… listrik saja belum ada.

Ada saudara yang sangat kesengsem dengan ABRI. Pokoknya semua yang berbau ABRI dia sangat senang. Ya baju lorengnya, topi, sepatu, bahkan melihat  anggota Abri berseragam saja dia sudah bahagia.

Tapi  saudara tadi hanya seorang buruh tani, yang setiap harinya hanya ke sawah tentunya. Dan kabarnya, kami gak berani bertanya sama dia, dia gak tamat Sekolah dasar.

Badanya tinggi dan tegap seperti anggota Abri maka, katanya, banyak yang mengira dia anggota. Wah pastinya dia suenang dengan perkiraan itu.

Suatu malam hari, dia diajak oleh paman untuk bertamu ke rumah kawan paman, seorang guru. Percakapan mereka bertiga diterangi oleh temaram lampu tempel. Melihat ada seorang seperti anggota Abri, timbul pertanyaan dari tuan rumah. “Tugas di mana mas?”. ” AKABRI”, jawab saudara tadi. Jawaban ini pasti membuatnya senang, tapi tentu tidak buat paman. Mendengar yang demikian, timbul pertanyaan kedua dari  tuan rumah, ” (kapan) Wisuda Mas?”. Karena dia gak tahu apa maksud wisuda, maka dijawabnya ” Lumayan“.?????????

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.