Ehh… blog ini ternyata masih ada, terusin ahhh….
Tahun ini tahun orang miskin, tahun saat orang miskin dimuliakan dan dicari-cari. Kemalangan, nasib jelek, kesusahan, penderitaannya merupakan barang berharga bagi capres. Lha kok jadi barang berharga? Mau tahu kenapa? Coba lihat iklan-iklan para Calon Presiden Stasiun TV, semua para Capres itu ingin memberi kesan kepada masyarakat bahwa mereka itu peduli dengan ( nasib ) orang miskin.
Salahkah mereka para capres itu memanfaatkan kemiskinan masyarakat untuk kepentingannya dalam mencari simpati (masyarakat lainnya)? Jawabnya tentu tidak salah. Meraka maju sebagai Capres dengan niat ingin memperbaiki nasib masyarakat dengan program-programnya ( katanya ) -kalau terpilih tentunya.
Tapi sepertinya, tidak ada korelasi positif antara presiden terpilih dengan program-program perbaikan yang dijanjikan dengan penurunan jumlah masyarakat miskin. Dari pengalaman yang ada, siapa (Presien ) yang terpilih ya terpilihlah… dan masyarakat yang miskin ya tetaplah miskin.
Saya teringat dengan seorang ibu di kampung, Ibu Saminem namanya. Ibu Saminem ini miskin, tapi pandai memasak dan karena kepandaiannya ini dia sangat dibutuhkan saat musim ( bulan ) pesta tiba, saat banyak orang pesta kawinan atau Sunatan anaknya. Dia akan berada di rumah Shokhibul Bait untuk beberapa hari membantu memasak untuk acara pesta. Saat-saat itu keberadaaanya sangat dibutuhkan. Jika pagi hari dia belum datang, si tuan rumah akan bingung dan segera mencarinya. Dia menjadi tumpuhan keberhasilan acara pesta.
Dan, upah apa yang diterima atas jerih payahnya tadi? Beberapa kilo beras, mie mentah, dan uang tak seberapa serta ucapan terima kasih ( kalau sempat).
Tapi bagaimana saat dia tidak sedang dibutuhkan? Ya menjadi orang miskin yang ( seakan ) tidak dibutuhkan.
Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.